Sweet Cakes and Milkshakes

intro :

Limousine Eyelash
Oh, baby with your pretty face
Drop a tear in my wineglass
Look at those big eyes
See what you mean to me

              Sweet cakes and milkshakes
              I am a delusion angel
              I am a fantasy parade
              I want you to know what I think
             Don’t want you to guess anymore 

You have no idea where I came from
We have no idea where we’re going

             Lodged in life
             Like two branches in a river
             Flowing downstream
             Caught in the current

I’ll carry you, you’ll carry me
That’s how it could be
Don’t you know me?
Don’t you know me by now?


Kamu mengenalkan namamu begitu saja, playlist pilihanmu dan suara lembutmu berlalu tanpa pernah kuingat-ingat. Awalnya, semua berjalan sederhana. Kita bercanda, kita tertawa, dan kita membicarakan hal-hal manis; walaupun segala percakapan itu hanya tercipta melalui pesan singkat. Perhatian yang mengalir darimu dan pembicaraan manis kala itu hanya ku anggap sebagai hal yang tak perlu dimaknai dengan luar biasa.

Kehadiranmu membawa perasaan lain. Hal berbeda yang kamu tawarkan padaku turut membuka mata dan hatiku dengan lebar. Aku tak sadar, bahwa kamu datang memberi perasaan aneh. Ada yang hilang jika sehari saja kamu tak menyapaku melalui dentingan chat. Setiap hari ada saja topik menarik yang kita bicarakan, sampai pada akhirnya kita berbicara hal paling menyentuh; cinta.

Kamu bercerita tentang mantan kekasihmu dan aku bisa merasakan perasaan yang kau rasakan. Aku berusaha memahami kerinduanmu akan perhatian seorang yang sangat spesial. Sebenarnya, aku sudah memberi perhatian itu tanpa kauketahui. Mungkinkah perhatianku yang sering kuberikan tak benar-benar terasa olehmu? Aku mendengar ceritamu lagi. Hatiku bertanya-tanya, seorang wanita hanya menceritakan perasaannya pada lelaki yang dianggap dekat.

Aku bergejolak dan menaruh harap. Apakah kausudah menganggap aku sebagai lelaki spesial meskipun kita tak memiliki status dan kejelasan? Senyumku mengembang dalam diam, segalanya tetap berjalan begitu saja, tanpa kusadari bahwa perasaan mulai menyeretku ke arah yang mungkin saja tak kuinginkan.

  Aku berusaha memercayai bahwa perhatianmu, candaanmu, dan caramu mengungkapkan pikiranmu adalah dasar nyata pertemanan kita. Ya, sebatas teman, aku tak berhak mengharapkan sesuatu yang lebih.

Perasaanku tumbuh semakin pesat, bahkan tak lagi terkendalikan. Siapakah yang bisa mengendalikan perasaan? Siapakah yang bisa menebak perasaan ini bisa jatuh pada orang yang tepat ataupun salah? Aku tidak sepandai dan secerdas itu. Aku hanya manusia biasa yang merasakan kenyamanan dalam hadirmu. Aku hanya lelaki yang takut kehilangan seseorang yang tak pernah aku miliki.

Aku duduk dalam gelap, mendengar deru napasku sendiri yang semakin berat. Rasa sakit ini sudah menjadi bagian dari hidupku, tetapi yang tak bisa kuterima adalah kemungkinan ia harus merasakannya juga. Aku membayangkan matanya yang jernih berubah sayu, senyumnya perlahan memudar, tubuhnya melemah karena sesuatu yang berasal dariku. Aku tak sanggup melihatnya menderita, tak bisa membiarkannya mengorbankan masa depan demi seseorang yang tak pasti. Maka, dengan langkah berat, aku memilih pergi. Bukan karena aku ingin, tetapi karena aku lebih takut melihatnya terluka dibandingkan kehilangan dirinya.

 Pernah tidak sih ngerasa kayak ada dinding tipis di antara dua orang? Bukan karena tak percaya, tapi karena takut—takut kalau terlalu terbuka, justru bakal bikin jarak. Aku sering mikir, siapa yang lebih open di antara kita? Aku atau kamu? Atau mungkin kita sama-sama menahan sesuatu, pura-pura santai padahal ada yang mengganjal di hati? Tapi aku sadar, hubungan yang nyata bukan soal siapa yang lebih dulu membuka diri, tapi soal keberanian buat tetap ada, meski tanpa kata-kata.

 "kaya lama2 aku terlalu menghawatirkan hal2 yg sebenernya orang itu juga ga peduli"

Aku tersenyum kecil membaca kata-katanya, tapi di dalam hati, ada sesuatu yang terasa perih. Dia bilang dia terlalu mengkhawatirkan hal-hal yang sebenarnya orang lain tidak peduli, tapi yang dia tak tahu—aku justru lebih peduli padanya dibandingkan dengan apa pun yang dia khawatirkan. Aku ingin bilang kalau perasaannya valid, kalau aku mendengar dan melihat semua itu, tapi aku takut. Takut kalau pada akhirnya, aku juga cuma jadi bagian dari hal-hal yang dia pikir tidak peduli.

 

 
Feb._2025
dying man counting his own sin
 

 


Korinthus

“Cinta itu sabar…”. Perempuan itu mendengar. Di gedung yang tak dihuni itu, di bawah bulan yang nyaris seperti limau, seseorang datang membacakan surat-surat itu sepotong-sepotong: lembar-lembar di sampul kulit yang sumbing dan berdaki.
Ada yang mengatakan seorang Suriah telah membawanya melewati gurun. Tapi perempuan itu lebih senang membayangkan seekor sphinx yang terbang karena ia menyukai mimpi.
Tiga hadirin lain sedikit gugup. Ia mencoba mengingat-ingat wajah penulis yang pernah singgah itu — ia disebut “rasul” – dan memang ada seorang pembuat tenda dengan tunik lengan pendek yang dulu menginap di antara puing yang tersisa di Korinthus. Tapi kini hanya terasa kembali apa yang terpercik dari kata-kata si tua: harapan itu dalam namun jauh.
Lewat tengah malam, seekor kucing berjalan melintasi peristilium, seperti bayangan abu-abu, tapi lentur, nyaris tak terlihat, mungkin ia dewa yang terusir. Di sisi yang agak gelap dari beranda si pendatang meneruskan baris berikutnya: “Cinta tak irihati…”. Suara itu, dengan logat awak kapal, sedikit bergetar, sedikit asing. Atau mungkin hanya karena angin.
Di luar: jalanan kota tidur. Tak sengaja. Bukit di utara seakan-akan canggung menunggu fajar, dan kini perempuan itu menyimak gema yang terhimpun di teluk dari ombak yang bersungut. “Cinta tak menyombongkan diri”, kalimat berikutnya dibacakan, dan ia ingat sebuah sajak tentang camar yang menghilang, entah kenapa.
Berdiri di antara dua tiang yang gumpil, ia, yang merasakan malam tambah dingin, mengetatkan syalnya pada pundak. Seorang lelaki lain kini mengambil lembar-lembar itu dari si pendatang dan ia melihat sejumlah kalimat yang nyaris terhapus: “Cinta menanggungkan segalanya, percaya segalanya”. Ia membacanya keras-keras seakan-akan ada yang harus dikatakan kepada tanah genting yang kosong itu.

aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan kata yang tak sempat diucapkan
kayu kepada api yang menjadikannya abu
aku ingin mencintaimu dengan sederhana;
dengan isyarat yang tak sempat disampaikan awan kepada hujan yang menjadikannya tiada”
Sapardi Djoko Damono

Kenangan Dunia

Terbuat dari apakah kenangan...
Harapan
  Impian 
    Cita-cita
       Keberhasilan
         Putus asa
            Kegagalan 
Sebuah perjalanan tiada henti
Atau...
Ini menjadi sebuah dunia yang sempurna

Ada yang bilang manusia diciptakan dari debu. Kenapa dari debu?  Aku ini diciptakan, karenanya tidak punya hak untuk mempertanyakan yang bukan-bukan. Setiap manusia harus punya masa lalu. Tetapi apakah debu itu masa lalu? Kalau debu itu tak dianggap sebagai masa lalu, ini artinya aku tidak akan bisa punya masa depan. Dan mungkin sekali debu itu jugalah masa depan ku.

R U M A H

Jam 3 pagi berangkat pulang, kemana? Tentu saja pulang ke rumah.
Pagi itu dinginnya angin yang berusaha masuk meyelinap kesela-sela jaket menjadi teman perjalanan pulang. Diperjalanan sudah terbayang sebuah tempat yang dinamakan rumah.
Rumah merupakan awalan dan akhiran,  karena rumah  merupakan titik awal kita melihat dunia ini dan dimana kita berakhir pulang dari dunia ini. setidaknya ini pengertian hiperbolis dari film tentang rumah yang telah saya tonton denga judul "The Tree of Life.
Perjalanan kali ini membuat saya mengenang kembali tentang rumah karena sebelumnya ada seseorang yang mengingatkan saya untuk pulang ke rumah.
ingatan tentang aroma rumah yang khas karena setiap rumah menurut saya mempunyai karakter aroma yang berbeda-beda.
ingatan akan tangga rumah yang setiap menaiki tangga itu selalu saya hitung.
ingatan genteng rumah yang bolong dan bocor dikala hujan karena atap rumah itu merupakan arena mengadu layang-layang.
ingatan akan langkah kaki awal kala meninggalkan rumah itu. ingatan ketika saya mempermalukan orang satu rumah dulu akan kelakuan saya dulu.
ingatan akan rumah disatu sisi rumah itu harusnya merupakan tempat yang nyaman malah menjadi tempat mengerikan.
mungkin dulu rumah merupakan tempat yang mengerikan, merupakan tempat asal saya untuk pergi. tapi kali ini beda "rumah" tempat  rindu akan makian dan amarah ibu. rindu akan masakan ibu. rindu akan raut muka ayah yang sudah mulai tampak garis wajah. rindu akan rengekan adik. rindu akan kediktatoran kakak. dan yang terpenting rindu akan rumah sebelum semuanya itu menghilang.
Kenapa menghilang, karena saya akan membangun rumah
sendiri. rumah tempat keluarga yang lebih baik dari rumah saya dulu. rumah yang nyaman bagi penghuninya. rumah yang akan selalu dirindukan.
sebuah rumah awalan dan akhiran.

terima kasih sudah mengingatkan akan rumah


Ramadhan sekarang

Assalamualaikum ramadhan,
Tahun ini aku datang masih sendirian
Mencoba datang tanpa pakaian nafsu
Mencoba datang hanya meraih Ridho-Nya
Tidak seperti tahun lalu
Kali ini aku datang tanpa kantong pahala
Selama ini aku tidak pandai mensyukuri nikmat-Nya
Aku malu pada sang Khalik


Assalamualaikun ramadhan,
Sajadah yang kini ku hamparkan dengan transaksi jualbeli
Aku bukan pedagang dihadapan sang Robbi
Aku adalah hamba yang berusaha mengabdi


Assalamualaikum ramadhan,
Mohon ijinkan aku bertasbih memuji nama-Nya bersamamu
Mencoba datang tanpa pakaian nafsu
Aku adalah hamba yang berusaha mengabdi


modernland, 10 July 2013

Anak Zaman

Bandung, 23 Juni 2013

Udara bandung di malam menjelang pagi masih tetap sama seperti bandung yang dulu, dinginnya menyelinap kesetiap pori-pori kulit. Akhirnya pagi itu jam 03.00 tiba juga, pagi yang menjawab dari sebuah pertanyaan.
Disebuah tempat dipinggir jalan bersama seorang teman ngobrol panjang lebar tentang sejarah.
Menurut pandangannya sejarah kembali terulang, jalan cerita sejarah dari zaman ke zaman tidak pernah berubah selalu berpola... Manusia dan pemerannya bisa berubah, peralatan-peralaan boleh berkembang pesat. Akan tetapi pentas sejarah tetaplah baku. Kisah permusuhan hanya satu, yaitu kebeneran melawan kebatilan. Islam memerangi kekafiran, kejahiliyahan dan kemunafikan yang terselubung.
Adapun orang-orang lemah dan bernyali rendah, mereka memegang tongkat pada bagian tengahnya. Satu sisi ia menyatakan bergabung dengan umatnya, tetapi disatu sisi lain dia mengedepankan kepentingan dunianya sembari menunggu kabut tersingkap dan peperangan berakhir. Dengan maksud ingin bergabung dengan kelompok yang kuat dan menumpang kapal pihak yang menang, sungguh teramat jelek apa yang diperbuat orang-orang seperti ini.
Tapi mereka dihentikan oleh orang-orang robbaniyyun, yang mengangkat bendera di zaman kerusakan, mengangkat kepala di zaman kehinaan, tekad mereka mengarungi angkasa, pergi menuju Alloh. Dzat Yang Maha melihat lagi Maha mendengar. Meneladani Sang pembawa peringatan dan kabar gembira, Muhammad Shollallohu Alaihi wa Salam.
Mereka orang-orang ghuroba yang wajahnya hangus terbakar angin keterasingan. Kaki mereka yang tanpa alas kaki meneteskan darah di gurun yang berkobar oleh api permusuhan. Tidak ada pintu yang mau menerima mereka sehingga mereka mengetuk pintu langit, lalu dibukalah pintu tersebut untuk mereka. langsung dari tengah-tengah surga untuk menghidupkan hati. Tersirat kegembiraan iman dalam diri mereka, sehingga tidak ada seorangpun dari mereka yang mundur. Karena mereka marah demi Dien-nya, walaupun seluluruh dunia bersatu-padu membidiknya.
Zaman satu bangsa yang hina tidak pernah sunyi dari ilmuan, sastrawan dan orang yang arif dan bijaksana! Mereka dipecahbelahkan dengan berbagi ideologi, tetapi idieologi itu bertumpu pada suatu rencana. Mereka ajar, didik anak singa agar menjadi kijang pengecut dan mereka hapuskan kisah-kisah singa pada masa silam. Cita-cita mereka hanyalah penipuan cendekiawan.
Dan temanku itu berbicara lagi
ayo kawan kita rubah zaman ini. Rubah manusia dengan pola penyadaran tentang manusia. Apa posisi manusia di Alloh. Bagaimana Alloh itu bisa diterima oleh otak kita yang bebal, yang dulunya  penuh dokrin dogmatis. Lihat zaman ini kawan, apa mau kita mewariskan zaman yang serba tidak jelas ini kepada anak cucu kita. Lihatlah masalalu kita yang kelam apa mau anak-anak kita mengalami seperti apa yang kita alami. Bangunlah generasi Rabbani, generasi yang lebih mencintai Alloh dan Alloh juga mencintai generasi tersebut. Apa mau anak kita dididik menjadi kijang pengecut? anak yang lebih mencintai dunia daripada Alloh.

Maka dari itu kawan dibulan Sya'ban ini persiapkan kuda-kuda yang ditambatkan. Ini adalah sebagai bentuk tobat kita dimasalalu kawan. Dan sebagai bentuk perlawanan terhadap keadaan...

Antara Menyuruh dan Berdo'a

21-06-2013 12.00 PM



Saya pernah berpikir kenapa kita berdoa ? dan biasanya yang saya tahu doa merupakan ritual meminta ke pada Alloh, tapi berdasarkan logika saya, apakah pantas seorang hamba meminta  supaya dikabulkan? atau saya melihat seperti menyuruh kepada tuhannya, bahkan sampai mengancam dan menuntut. Berdoa kepada Alloh bahwa butuh ini itu, seakan akan kita memberitahu apa yang terbaik yang kita butuhkan dan apa yang kita perlukan.
Tapi bukankah Alloh itu maha tahu?  ya memang maha tahu. Maka dari itu doa tidak selalu dikabulkan, atau malah tidak pernah ada yang dikabulkan? karena, ya karena Alloh telah maha tahu, sehingga dia memberikan apa yang benar-benar kita butuhkan, bukan yang kita doakan. bukankah begitu logikanya? tapi jadi untuk apa doa ?
Jawabannya adalah sebagai ibadah, bukti kita taat kepada perintahnya yang ada di Al-Quran dan ”sebagai sebuah pengakuan kita bahwa kita hamba yang mengimani Alloh” 

[40:60] Dan Tuhanmu berfirman: "Berdo'alah kepada-Ku, niscaya akan Kuperkenankan bagimu. Sesungguhnya orang-orang yang menyombongkan diri dari menyembah-Ku1327 akan masuk neraka Jahannam dalam keadaan hina dina".


maaf ngutip ayat dikit he he he, selain itu dengan berdoa kita yakin adanya Alloh, dengan berdoa kita tunduk kepada kebesaran Alloh, dengan berdoa kita hidup dan mati karena Alloh dan jawaban yang tersisa adalah, bagaimana Alloh memberikan apa yang kita butuhkan ? bagaimana cara Alloh bekerja ?
entah, bagi saya Alloh itu maha berbeda.
 
"Alloh works in a mysterious way"
 
makasih bahir atas diskusinya.... 
 
Do'a adalah bentuk kita berazam, berniat, dan bertekad yang dimana do'a adalah sebagai pengendali, kemudi untuk menentukan langkah.
Amin adalah bentuk langkah, gerak, berupaya dan usaha dari do'a yang kita azamkan.
klo masalah do'a kita dikabulkan atau engga mah ya terserah Alloh. Itu merupakan salah satu hak prerogatifnya Alloh yang tidak bisa diintervensi oleh kita sebagai makhluk. 
Yang kita bisa hanya ber-do'a dan meng-amin-ni (berupaya terus-menerus)
 

Sweet Cakes and Milkshakes

intro : Limousine Eyelash Oh, baby with your pretty face Drop a tear in my wineglass Look at those big eyes See what you mean to me     ...